Senin, 22 April 2013

ILMU LUGHOH dan SEJARAH PERKEMBANGANNYA


BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Linguistik
            Secara umum linguistik lazim diartikan sebagai ilmu bahasa atau ilmu yang mengambil bahasa sebagai objek kajiannya.[1]
            Menurut BLOOMFIELD, Linguistik adalah sain (science), seperti halnya fisika dan kimia adalah sain.

            Sedangkan menurut NEWMARK, Lingusitik adalah ide dasar yang ada di dalam teks yang bersangkutan. Bisa dikatakan bahwa makna ini tidak berbeda jauh dari serangkaian makna leksikal.
            Grammar atau tata bahasa adalah studi sistematis dan deskripsi bahasa. Satu set aturan dan contoh berurusan dengan sintaks dan struktur kata (morfologi) dari sebuah bahasa.[2]
Sedangkan filologi, secara etimologi berasal dari bahasa Yunani yaitu Philos dan Philein yang berarti cinta dan logos berarti kata. Pada kedua kata itu membentuk arti cinta kata atau senang bertutur.
Secara terminologis disebut sebagai ilmu yang mempelajari bahasa, budaya dan sejarah suatu bangsa melalui bahan tertulis. Dewasa ini istilah filologi diartikan sebagai ilmu yang menyelidiki masa kuno dari nilai berdasarkan naskah-naskah tertulis.

2.2 Sejarah Perkembangan Ilmu Bahasa
            Ilmu bahasa yang dipelajari saat ini bermula dari penelitian tentang bahasa sejak zaman Yunani (abad 6 SM). Dalam sejarah perkembangannya, linguistik dipenuhi dengan berbagai aliran, paham, pendekatan dan teknik penyelidikan.


2.3  Linguistik Tradisional
A.    Zaman Yunani.
Studi bahasa pada zaman Yunani dimulai sejak abad ke-5 SM sampai abad ke-2 M. Masalah kebahasaan yang menjadi pertentangan para linguis pada waktu itu adalah:[3]
a.    Pertentangan antara fisis dan nomos.
Para filsuf Yunani mempertanyakan apakah bahasa itu bersifat alami (fisis) atau bersifat konvensi (nomos). Bersifat alami atau fisis maksudnya bahasa itu mempunyai hubungan asal-usul, sumber yang abadi dan tidak dapat diganti oleh manusia. Setiap kata mempunyai makna secara alami misalnya kata-kata yang disebut onomatope, atau kata yang terbentuk berdasarkan peniruan bunyi.
Di antara tokoh-tokoh yang terlibat dalam persoalan ini, antara lain: Socrates (460-399 SM). Ia berpendapat bahwa antara lambang dan acuan memiliki hubugan yang pasti. Di sisi lain, Aristoteles (384-322 SM) berpendapat bahwa hubungan antara lambang dan acuan hanya bersifat konvensional.

b.
    Pertentangan antara analogi dan anomali.
Pertentangan antara analogi dan anomali menyangkut masalah apakah bahasa itu sesuatu yang teratur atau tidak teratur. Kaum analogi antara lain Plato dan Aristoteles, berpendapat bahwa bahasa itu bersifat teratur. Karena adanya keteraturan itulah orang dapat menyusun tata bahasa. Jika tidak teratur yang dapat disusun tentu hanya idiom-idiom saja. Keteraturan bahasa itu tampak, misalnya, dalam pembentukan jamak dalam bahasa arab:
مسلم                  مسلمان               مسلمون

Sementara kelompok anomali berpendapat bahasa itu tidak beraturan. Kalau bahasa itu teratur, Misalnya dalam bahasa Arab, kenapa jamak dari كتاب adalah كتب  tidak  كتابونseperti kata  مؤمنyang jamaknya مؤمنون . Dalam bahasa Inggris kenapa bentuk jamak dari child adalah children, bukannya childs. Ini menunjukkan bahasa itu tidak teratur.
B.      Zaman Romawi.
Studi bahasa pada zaman Romawi merupakan kelanjutan dari zaman Yunani. Orang-orang Romawi banyak mendapat pengalaman dari kemajuan Yunani sebelumnya. Tokoh-tokoh terkenal pada zaman Romawi antara lain adalah (1) Varro (116-27 SM) dengan karyanya De Lingua Latina dan (2) Priscia dengan karyanya Institutiones Grammaticae.[4]
a.    Varro (116-27 SM)
Dalam bukunya De Lingua Latina yang jumlahnya mencapai 25 jilid, Varro menyinggung beberapa hal; di antara-nya pertentangan antara analogi dan anomali, etimologi, morfologi dan sintaksis.
b.    Priscia.
Dalam bukunya Institutiones Grammaticae yang jumlah-nya mencapai 18 jilid membahas beberapa persoalan yang menyangkut bahasa Priscia, yaitu fonologi, morfologi dan sintaksis. Priscia kemudian dikenal sebagai peletak dasar tata bahasa Priscia.
C.      Zaman Pertengahan.
Pada masa pertengahan ada dua hal yang perlu dikemukakan sehubungan dengan perkembangan linguistik, kedua hal ini adalah munculnya kaum Modistae dan tata bahasa spekulatif. [5] Kaum Modistae masih juga membicarakan pertentangan antara fisis dan nomos, dan pertentangan antara analogi dan anomali, mereka menerima konsep analogi, karena menurut mereka bahasa itu bersifat reguler dan bersifat universal, disamping itu mereka juga secara penuh memperhatikan semantik sebagai dasar penyebutan definisi-definisi dan bentuk-bentuk bahasa, mereka juga mencari sumber makna, maka dengan demikian berkembanglah bidang etimologi pada zaman itu.
Tata bahasa spekulativa merupakan hasil integrasi deskripsi gramatikal bahasa Latin ke dalam filsafat skolastik. Menurut tata bahasa spekulativa, kata tidak secara langsung mewakili alam dari benda yang ditunjuk, kata hanya mewakili hal adanya benda itu dalam pelbagai cara, modus, substansi, aksi, kualitas, dan sebagainya.
D.    Zaman Renaissans
Kata renaissans atau renaissance berhubungan dengan kata renaitre yang bermakna lahir kembali. Renaissans adalah masa kehidupan kembali usaha mempelajari zaman kuno (Yunani dan Romawi), baik mengenai keseniannya, filsafat, sastra yang lahir pada abad 16 dan 17.
1.     Para sarjana pada masa ini selain menguasai bahasa Latin, mereka juga menguasai bahasa Yunani, Ibrani, dan bahasa Arab.
2.     Selain bahasa Yunani, Latin, Ibrani, dan Arab, bahasa-bahasa Eropa lainnya juga mendapat perhatian dalam pembahasan, penyusunan tata bahasa, serta perbandingan.
2.4 Linguistik Modern (Linguistik Strukturalis)
            A. Linguistik Abad-19
Pada abad 19 bahasa Latin sudah tidak digunakan lagi dalam kehidupan sehari-hari, maupun dalam pemerintahan atau pendidikan.[6] Objek penelitian adalah bahasa-bahasa yang dianggap mempunyai hubungan kekerabatan atau berasal dari satu induk bahasa. Bahasa-bahasa Roman, misalnya secara genetis dapat ditelusuri berasal dari bahasa Latin yang menurunkan bahasa Perancis, Spanyol, dan Italia. Dalam metode komparatif itu diteliti perubahan bunyi kata-kata dari bahasa yang dianggap sebagai induk kepada bahasa yang dianggap sebagai keturunannya. Misalnya perubahan bunyi apa yang terjadi dari kata barang, yang dalam bahasa Latin berbunyi causa menjadi chose dalam bahasa Perancis, dan cosa dalam bahasa Italia dan Spanyol.
Untuk mengetahui hubungan genetis di antara bahasa-bahasa dilakukan metode komparatif. Antara tahun 1820-1870 para ahli linguistik berhasil membangun hubungan sistematis di antara bahasa-bahasa Roman berdasarkan struktur fonologis dan morfologisnya. Pada tahun 1870 itu para ahli bahasa dari kelompok Junggramatiker atau Neogrammarian berhasil menemukan cara untuk mengetahui hubungan kekerabatan antarbahasa berdasarkan metode komparatif.[7]
            B. Linguistik Abad-20
            Pada abad 20 penelitian bahasa tidak ditujukan kepada bahasa-bahasa Eropa saja, tetapi juga kepada bahasa-bahasa yang ada di dunia seperti di Amerika (bahasa-bahasa Indian), Afrika (bahasa-bahasa Afrika) dan Asia (bahasa-bahasa Papua dan bahasa banyak negara di Asia).
Ferdinand de Saussure
            Ferdinand de Saussure (1857-1913) dianggap sebagai Bapak Linguistik Modern berdasarkan pandangan-pandangan yang dimuat dalam bukunya Course de Linguistique Generale yang disusun dan diterbitkan oleh Charles Bally dan Albert Sechehay tahun 1915 (jadi, 2 tahun setelah Saussure meninggal), berdasarkan catatan kuliah selama de Saussure memberi kuliah di Universitas Jenewa tahun 1906-1911.
            Pandangan yang dimuat dalam buku tersebut mengenai konsep:[8]
1.      Telaah sinkronik dan diakronik
2.      Perbedaan langue dan parole
3.      Perbedaan signifiant dan signifie
4.      Hubungan sintagmatik dan paradigmatik
John R. Fith
            John R. Firth (1890-1960) guru besar pada Universitas  London, dia sangat terkenal karena teorinya mengenai fonologi prosodi. Karena itulah aliran yang dikembangkannya dikenal dengan nama Aliran Prosodi atau Aliran Firthian.
            Fonologi prosodi adalah suatu cara untuk menentukan arti pada tataran fonetis. Ada tiga macam pokok prosodi, yaitu:
1.      Prosodi yang menyangkut gabungan fonem; struktur kata, struktur suku kata, gabungan konsonan, dan gabungan vokal.
2.      Prosodi yang terbentuk oleh sendi atau jeda.
3.      Prosodi yang realisasi fonetisnya melampaui satuan yang lebih besar dari pada fonem-fonem suprasegmental.
Firth juga terkenal dengan pandangannya mengenai bahasa. Dalam bukunya yang berjudul The Tongues of Man and Speech dan Papers in Linguitics, Firth berpendapat telaah bahasa harus memperhatikan komponen sosiologis. tiap tutur harus dikaji dalam konteks situasinya, yaitu orang-orang yang berperan dalam masyarakat, kata-kata yang mereka ungkapkan, dan hal-hal lain yang berhubungan.[9]
 Leonard Blomfield
L. Bloomfield (1887-1949), yang melalui kuliah dan karyanya mendominasi dunia linguistik sampai akhir hayatnya. Pada tahun 1914 Bloomfield menulis buku An Introduction to Linguistic Science. Artikelnya juga banyak diterbitkan dalam jurnal Language yang didirikan oleh Linguistic Society of America tahun 1924. Pada tahun 1933 sarjana ini menerbitkankan buku Language yang mengungkapkan pandangan behaviorismenya tentang fakta bahasa, yakni stimulus-response atau rangsangan-tanggapan. Teori ini dimanfaatkan oleh Skinner (1957) dari Universitas Harvard dalam pengajaran bahasa melalui teknik drill.
Dalam bukunya Language, Bloomfield berpendapat fonem merupakan satuan behavioral. Bloomfield dan pengikutnya melakukan penelitian atas dasar struktur bahasa yang diteliti, karena itu mereka disebut kaum strukturalisme dan pandangannya disebut strukturalis.[10]
Bloomfield berpendapat fonologi, morfologi dan sintaksis merupakan bidang mandiri dan tidak berhubungan. Tata bahasa lain yang memperlakukan bahasa sebagai sistem hubungan adalah tata bahasa stratifikasi yang dipelopori oleh S.M. Lamb. Tata bahasa lainnya yang memperlakukan bahasa sebagai sistem unsur adalah tata bahasa tagmemik yang dipelopori oleh K. Pike. Menurut pendekatan ini setiap gatra diisi oleh sebuah elemen. Elemen ini bersama elemen lain membentuk suatu satuan yang disebut tagmem.


[1] Chaer Abdul, Linguistik Umum (Jakarta: PT. Rineka Cipta: 2009), hal 6
[3] Ibid, hal. 333


[4] Ibid, hal. 338



[6] Robins, R.H. A Short History of Linguistics ( London: Longman, 1990), hal: 66
[7] Ibid, hal. 71
[8] Ibid, Chaer Abdul. Hal. 346
[9] Ibid, hal. 355
[10] Ibid, hal. 358

Tidak ada komentar:

Posting Komentar