Jumat, 15 November 2013

METODE PEMBELAJARAN MUFRADAT DAN SHOROF

2.1  Pembelajaran  Al-Mufradat
A.    Pengertian Al-Mufradat
Pada taraf awal kita mengenal dan mempelajari suatu bahasa maka tentu kita mengenal yang namanya mufrodat (kosa kata). Kosa kata merupakan tahap awal bagi kita untuk tahu bahasa suatu kelompok masyarakat tertentu. Oleh karenanya sebelum kita membahas lebih jauh tentang strategi atau metode pembelajaran mufrodat maka lebih baik kiranya kita kenal terlebih dahulu apa devinisai dari mufrodat.
Menurut Ahmad Djanan Asifuddin, pembelajaran kosa kata (al-mufrodat) yaitu proses penyampaian bahan pembelajaran yang berupa kata atau perbendaharaan kata sebagai unsur dalam pembelajaran bahasa arab. Dari devinisi yang diberikan oleh Djanan Asifuddin memberikan gambaran kepada kita bahwa mufrodat merupakan tahap paling dasar karna ranah pembahasannya hanyalah kata dan tentunya fungsi umumnya adalah untuk menambah perbendaharaan kata untuk kemudian digabung menjadi sebuah kalimat yang sempurna, baik cara memperolehnya adalah dengan mendengar ataupun membaca.[1]

Kosa kata merupakan kumpulan kata- kata tertentu yang pada perkembangannya akan membentuk suatu kalimat atau bahasa, dari uraian tersebut maka jelaslah bahwa mufrodat berbeda dengan morfem, mufrodat adalah bagian terkecil dari bahasa yang sifatnya bebas sementara morfem adalah satuan bahasa yang terkecil yang tidak bisa di bagi atas bagian yang lebih kecil yang maknanya relative stabil. Misalkan kata "مسلم" terdiri dari satu morfem, kata “المسلم” terdiri dari dua morfem yaitu ال dan مسلم , dan kata "المسلمون"  terdiri dari tiga morfem yaitu ال, مسلم dan ون.[2]
B.     Tujuan Mempelajari Mufradat
Setelah kita mengenal apa itu mufrodat maka kira - kira apa tujuan kita mempelajarinya, berikut tujuan dari mempelajari mufrodat:
1.      Menambah perbendaharaan kosakata baru
Dengan mempelajari mufrodat paling tidak kita mempunyai tabungan perbendaharaan bari yang bisa kita keluarkan ketika kita butuh untuk menyusun sebuah kalimat yang sempurna.
2.      Melatih melafalkan dengan baik dan benar
Dengan belajar kosa kata kita akan tau cara melafalkannya secara baik dan benar dari segi makhorijul huruf dan panjang pendeknya sekiranya dapat di mengerti oleh yang mendengarkan.
3.      Memahami kosakata baru baik secara denotasi maupun konotasi
Jauh dari itu kita dapat  memahami arti kata yang sebelumnya tidak pernah kita tau baik arti secara denotasi atau konotasinya. Sehingga kita tidak tertipu dengan adanya satu kata banyak arti atau sebaliknya.
4.      Mampu merangkainya menjadi suatu bahasa lisan atau tulisan
Pada taraf yang lebih matang adalah kita mampu mengaplikasikannya dalam sebuah bahasa lisan atau tulisan dengan pemilihan kata yang tepat dan tersusun,se hingga tercipta bahasa yang mudah di paham dan tulisan yang mudah di mengerti.[3]


C.     Prinsip-prinsip Pembelajaran Mufradat
Seorang pakar Faisal Hendra, menyebutkan tujuh prinsip dalam pemilihan pembelajaran mufradat;
1.      Frekuency, yaitu frekuensi penggunaan kata-kata yang tinggi dan sering itulah yang harus menjadi pilihan.
2.      Range, yaitu mengutamakan kata-kata yang banyak digunakan di negaraarab maupun di Negara-negara non Arab atau di suatu negara tertentu yang mana kata-kata itu lebih sering digunakan.
3.      Availability, mengutamakan kata-kata atau kosakata yang mudah dipelajari dan digunakan dalam berbagai media atau wacana.
4.      Familiarty, yakni mendahulukan kata-kata yang sudah dikenal dan cukup familiar didengar, seperti penggunaan kata شَمْسٌ lebih sering digunakan dari pada kata ذٌ كاءٌ , padahal keduanya sama maknanya.
5.      Coverage, yakni kemampuan daya cakup suatu kata untuk memiliki beberapa arti, sehingga menjadi luas cakupannya. Misalnya kata يبت lebih luas daya cakupannya dari pada kata منـزل.
6.      Significance, yakni mengutamakan kata-kata yang memiliki arti yang signifikan untuk menghindari kata-kata umum yang banyak ditinggalkan atau kurang lagi digunakan.
7.      Arabism, yakni mengutamakan kata-kata Arab dari kata-kata serapan yang diarabisasi dari bahasa lain. Misalnya kata الهاتف , المذيـاع, التلفاز secara berurutan ini harus diutamakan pemilihannya dari pada kata التليفون , الراديو dan التلفزيون.[4]
D.    Metode Pembelajaran Mufradat
Setelah kita mengenal Mufrotad maka selanjutnya kita akan bahas metode atau strategi pembelajaran mufrodat dengan pemahaman bahwa tekhnik – tekhnik apa yang akan di gunakan dalam penyampaian terhadap siswa terkait materi mufrodat.
Effendi menjelaskan lebih rinci tentang tahapan dan tehnik – tehnik pembelajaran mufrodat  atau pengalaman siswa dalam mengenal dan memperoleh makna kata sebagai berikut:[5]
1.      Mendengarkan kata
2.      Mengucapkan kata
3.      Mendapatkan makna kata
4.      Membaca kata
5.      Menulis kata
6.      Membuat kalimat
Setelah kita di perkenalkan dengan tahapan tahapan di atas maka kita akan diperkenalkan dengan strategi atau metode – metode yang sesuai dengan tahapan-tahapannya:[6]
a.       Metode pembelajaran mufradat untuk tingkat dasar (Mubtadi’)
Ini merupakan strategi tingkat dasar dan dapat menggunakan beberapa metode sebagai berikut:
1.      Menggunakan nyanyian atau lagu dalam bahasa arab, diharapkan agar proses belajar menjadi tidak menjenuhkan mutallim pemula.
2.      Dengan menunjukkan bendanya, artinya ketika kita memperkenalkan suatu mufrodat baru kepada mutallim dengan langsung menunjukkan bendanya, di harapkan agar mudah untuk mengingatnya.
3.      Dibaca berulang – ulang. Agar cepat menempel dalam ingatan siswa.
b.      Metode pembelajaran mufradat tingkat menengah (Mutawassith)
Ini merupakan strategi tingkat menengah dan dapat menggunakan beberapa metode sebagai berikut:
1.      Menggunakan peragaan tubuh
2.      Menulis kata-kata
3.      Memberikan persamaan kata
4.      Memberikan lawan kata
5.      Memberikan asosiasi makna
c.       Metode Pembelajaran Bahasa Arab Tingkat Lanjut (Mutaqoddimin)
Ini merupakan strategi tingkat lanjutan dan dapat menggunakan beberapa metode sebagai berikut:
1.      Menjelaskan makna kata dengan menjelaskan maksudnya
2.      Mencari makna dalam kamus
3.      Mengacak mufradat agar disusun menjadi tarkib yang benar
4.      Meletakkan kata dalam kamus
5.      Memilih contoh mufradat yang baik dikonsumsi siswa
6.      Member harakat
7.      Mentranslate ke bahasa ibu
2.2  Metode dan Tujuan Pembelajaran Shorof
Akhir-akhir ini minat baca kitab sangat minim di karenakan sulitnya siswa untuk memahaminya, ini dikarenakan sedikitnya perbendaharaan mufrodat dan minimnya pengetahuan akan kaidah-kaidah kebahasaan yang sangat urgen keberadaannya layaknya dalam sebuah keluarga ulama bahasa menyimbolkan bahwa nahwu induk pengetahuan dan shorof adalah ayahnya, bagaimana akan terlahir sebuah keilmuan jika induk dan bapaknya kita tidak punya?
A.    Tujuan Pembelajaran Ilmu Sharaf
Untuk menentukan dan memastikan langkah apa dan metode efektif yang bagaimana yang dapat ditawarkan sebagai upaya mencari terobosan dalam pengajaran ilmu sharaf, maka sebagai langkah awal yang harus dirumuskan dan ditentukan terlebih dahulu adalah tujuan pengajaran ilmu sharaf. Hal ini penting untuk dilakukan karena ketidakjelasan tentang tujuan yang akan dicapai dapat berdampak pada kekurangfokusan dan bahkan kekaburan format metode yang akan ditawarkan.
Sebenarnya peran dan fungsi ilmu sharaf secara umum adalah membantu peserta didik dalam menentukan masing-masing sighat (jenis kata) dari kalimat-kalimat yang merangkai sebuah teks bahasa arab. Apakah kalimat yang sedang dihadapi termasuk dalam kategori fi’il madli, fi’il mudlari’, fi’il amar, masdar, isim fa’il, isim maf’ul, isim zaman atau isim makan. Masing-masing sighat tersebut harus mampu dipahami dengan baik oleh peserta didik, karena secara langsung memiliki korelasi dengan arti sebuah kalimat. Ketidak mampuan peserta didik dalam memahami dan menentukan sighat akan berdampak pada kemampuan peserta didik dalam menganalisa dan memahami sebuah teks.
B.     Metode Pembelajaran Sharaf
1.      Metode Tasrif Istilahi
Metode ini memperkenalkan perubahan bentuk kata dari kata dasar kepada beberapa contoh yang berbeda – beda. Adapun langkah turunannya adalah sebagai berikut:[7]
a.       Dengan metode hafalan
b.      Konsep tentang wazan
c.       Latihan
2.      Metode Tasrif Lughowi
Metode ini mengajarkan bagaimana mengisnadkan bentuk tasyrif fi’il kepada dhomir baik mutakallim, mukhotob atau ghaib.



[1] http://Metode.multiply.com/journal/item/Metode-Pembelajaran-Mufradat/24, diakses pada tanggal 24-09-2013
[2] Muhammad Ali Al-Khuly, Asalib Tadris al-Lughah al-Arabiyah (Riyadh: Daar al-Ulum, 1989), hal. 89
[3] Mustofa, Syaiful. Strategi PembelajaranNahasa Arab Inovatif (Malang: UIN Press, 2011), hal. 79
[4] Hendra Faisal, Metodologi Pembelajaran Bahasa Arab (Jakarta: Depag RI, 2006), hal. 156
[5] A. Fuad Effendi, Metodologi Pengajaran Bahasa Arab (Malang: Misykat, 2005), hal. 100
[6] http://Metode.multiply.com/journal/item/Metode-Pembelajaran-Mufradat/24, diakses pada tanggal 24-09-2013
[7] http://02desember.blogspot.com/2011/06/metode-pemelajaran-ilmu-nahwu-shorof.html, diakses pada tanggal 23-09-2013

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar